Rabu, 02 Juli 2014

KERAJINAN WAYANG THENGUL DAN KRUCIL MBAH SANTOSO

Mbah Santoso dengan Karya Wayang Krucil nya
(Foto : Novi BMW, 15/06/2014)
Wayang Thengul adalah wayang kayu berbentuk tiga dimensi dengan busana rapi sejenis dengan Wayang Golek Jawa Barat. Perbedaan Wayang Thengul dengan Wayang Golek Jawa Barat adalah atribut, nama tokoh dan cerita yang dilokonkan. Dimana Wayang Thengul mengambil latar kisah dan penokohan terlepas dari cerita Ramayana dan Mahabarata. Cerita - cerita yang di ambil sebagian besar merupakan cerita rakyat lokal Jawa Timur – Jawa Tengah, seperti Cerita Panji, Cerita Damarwulan, Cerita Menak, Cerita Para Wali, Kesultanan Demak – Pajang dan Cerita Anglingdharma.

Kini Wayang Thengul telah menjadi ikon budaya Kabupaten Bojonegoro. Hal ini tidaklah berlebihan, karena jumlah dalang Wayang Thengul di Kabupaten Bojonegoro lebih banyak dari pada daerah lainnya. Selian itu antusias masyarakat untuk pementesan wayang ini sangat besar, dibandingkan jenis wayang lainnya.

Menurut Mbah Santoso (71) yang pertama mempopulerkan Wayang Thengul pada masa Kolonial Belanda dahulu adalah Mbah Samijan (alm). Selian dalang wayang Thengul, Mbah Samijan juga membuat wayang sendiri. Kemudian Mbah Santoso pun menceritakan asal nama “Thengul” yang beliau peroleh dari Mbah Samijan langsung. Yaitu Thengul berasal dari dua kata, yaitu “Theng” yang bermakna angan – angan, keinginan atau niat, dan “Ngul” singkatan kata dari Ngulandoro (mengembangkan/menyebarkan dengan mengembara). Jadi pengartian Thengul adalah niat mengembara menyebarkan ajaran dalam wayang dengan cara ngamen ke desa – desa.

Sekitar tahun 1959, Wayang Thengul sangatlah digemari masyarakat wilayah Padangan dari pada Wayang Kulit. Mbah Santoso pun tertarik untuk mempelajari wayang Thengul. Beliau belajar langsung Wayang Thengul kepada Bapak Samijan, selain itu ia juga mencoba membuat wayang sendiri dan terus mengikuti Bapak Samijan tampil dimana-mana.
Wayang Thengul Karya Mbah Santoso
(Foto : Aris Sudarsono, 18/04/2014)
Sepeninggal Mbah Samijan, Mbah Santoso akhirnya mengikuti jejak gurunya tersebut, beliau ngamen Wayang Thengul ke desa –desa dengan diiringi sekitar 8 orang pengiring/pengrawit. Jika tanggapan pengrawit lengkap sekitar 20 orang. Tanggapan sering di tampilkan saat ada orang hajatan, acara manganan dan juga Ruwatan. Cerita pagelaran Wayang sama halnya cerita ketoprak seperti cerita-cerita Panji, Damarwulan, Minak dan Anglingdharmo dengan diiringi gamelan pelog slendro.

Kini Mbah Santoso masih sering mengadakan pertunjukan wayang, baik Wayang Krucil mapun Wayang Thengul, walaupun undangan pentas semakin sedikit dibandingkan dimasa dahulu. Selian itu kerajinan ukir wayang Krucil, wayang Thengul dan aneka ukiran kayu menjadi mata pencaharian beliau. Di usianya yang sudah 70 tahun, beliau kini tidaklah sendiri dalam usaha melestarikan kerajinan ukir kayu dan pembuatan wayang Krucil – Thengul. Beliau dibantu oleh Aris Sudarsono (30), salah satu dari putra beliau yang kini hidup menemani sang ayah.
Grobak Wayang Karya Mbah Santoso
(Foto : Novi BMW, 15/06/2014)
Bahan baku kayu yang dari hari kehari semakin mahal, alat yang sederhana, serta modal yang tidak cukup untuk membayar pekerja, membuat Mbah Santoso kuwalahan dan terpaksa tidak mampu mengembangkan usaha kerajinan nya. Beliau berharap adanya dukungan modal atau bimbingan dari pihak pemerintah.

Wawancara Bersama Mbah Santoso
(Foto : Nunung, 15/06/2014)
Mbah Santoso menceritakan, bahwa pada masa pemerintahan Presiden Soeharto pernah mendapat bimbingan dari Perhutani, dan usahanya maju hingga mendapat penghargaan dari presiden kala itu. Namun semenjak Revormasi bergulir, usaha kerajinannya pun jatuh, hingga pekerja yang dahulu didiknya berkerajinan banyak yang harus merantau ke luar daerah. Dari masa Revormasi hingga kini pun belum ada bantuan modal maupun bimbingan secara intensif dari pemerintah daerah maupun pusat. Padahal Mbah Santoso merupakan maestro Wayang Thengul satu – satunya di Bojonegoro, yang hingga kini masih berkarya membuat wayang Ikon budaya Kabupaten Bojonegoro tersebut.
Sebagian Karya Mbah Santoso yang hijrah ke Sumenep
(Foto ; Novi BMW, 15/06/2014)
Dewo Ringgih, salah satu pemilik Cafe ternama di Kabupaten Sumenep pun tertarik dengan Wayang Krucil dan Wayang Thengul Mbah Santoso. Ia memesan Wayang Krucil Mbah Santoso untuk menghiasi ruang Cafe yang baru dibuka tidak jauh dari Terminal Bus Arya Wiraraja Kabupaten Sumenep.

Ditulis oleh : Novi BMW
PBB04, Kamis, 03/07/2014

3 komentar:

  1. mau penelitian tentang wayang thengul tapi dimana ya bisa dapet informasinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kebetulan Mbak... saya jg sdang penelitian thengul, bs berbagi data nanti :)
      pean bs datang langsung ke :
      1. Bidang Pelestarian dan Pengembangan Budaya Kantor Budpar Bojonegoro (sy ada sedikit literatur ttg thengul)
      2. Wawancara Mbah Santoso & Mbah Mardji
      3. Berkunjung ke Rumah Mbah Hoery ketua PSJB (Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro) bliau buat buku ttg Wayang Thengul

      trimakasih dah berkunjung Mbak Ni'matul Khoiriyah :)

      Hapus
    2. saya mau membuat video tentang wayang thengul apakah saya ijin dahulo dengan pemerintah bojonegoro / langsung ke mbah santoso / mbah mardji

      Hapus