Kamis, 21 Agustus 2014

PERAHU BESI KUNO DI BOJONEGORO

Perahu Besi Desa Ngraho dengan Rantai Besi kuno
Perahu besi di Desa Ngraho, Kec. Gayam, Kab. Bojonegoro ini ditemukan sekitar awal tahun 2013 lalu, kemudian berhasil diangkat dan kini berada pada area Punden Mbah Pung Prodo sejak bulan Juni 2013. Panjang Perahu ini sekitar 22 meter dan lebar lambung kapal sekitar 4 meter, kemudian pada pertengahan bulan Juli 2014 para penambang pasir menemukan rantai besi yang memiliki panjang sekitar 35 meter.

 Perahu besi ini memiliki lambung kapal yang disekat menjadi 5 bagian. Teknik pembuatan kapal besi ini menggunakan teknik keling, yaitu menempelkan bagian demi bagian lembaran besi dengan cara di tempel dan diberi semacam paku pengait. Teknik ini digunakan membuat perahu sebelum teknik las logam dikenal oleh manusia. Hal ini menunjukkan teknik sederhana dan kemungkinan dugunakan masa sebelum kolonial Belanda. Identifikasi sementara, perahu besi ini berasal pada masa VOC Belanda (1602 - 1800) untuk mengangkut hasil bumi di pedalaman Pulau Jawa untuk diperdagangkan keluar pulau Jawa.
Punden Mbah Pung Prodo
“Pembangunan tempat perahu dan tembok keliling punden ini dibangun sejak pemerintahan kepala desa yang lalu, nah kalau cungkup punen ini masa saya dan nanti sesuai amanah kepala desa yang dulu saya akan teruskan pula program pembangunan kolam di bawah tempat perahu dan penambahan paving di area punden” ungkap Bapak Samat (42) kepala Desa Ngraho yang baru, saat dikonfirmasi rencana kedepan penanganan Perahu Besi kuno.

Dari penuturan Bapak Muhsin (54), Kaur Pembangunan Desa Ngraho, ada pantangan bagi kaum wanita masuk ke area Punden Mbah Pung Prodo ini. Kaum perempuan masyarakat Desa Ngraho, sampai sekarang pun enggan masuk kelokasi punden. Bahkan jika ada ternak, terutama kambing penduduk masuk ke area punden, kaum perempuan Desa Ngraho membiarkannya karena takut untuk masuk kelokasi punden.
“Dahulu kalau ada wanita masuk area punden sini pasti mendapat bala, atau peristiwa buruk. Makanya sampai sekarang kaum wanita Desa Ngraho tidak ada yang berani masuk sini. Biasanya ada ibu – ibu yang menggembala kambing, terus kambingnya masuk punden, pasti dibiarkan saja nunggu kambingnya keluar punden. Soalnya g berani ambil kambing yang masuk area punden” tutur Pak Muhsin.
Rantai Besi yang ditemukan Juli 2014

Namun kini banyak pengunjung wanita dari luar daerah masuk untuk melihat – lihat temuan perahu, dan tidak ada yang melarang. Seperti halnya Nunung Deanawati, peneliti arkeologi dari Komunitas Banyu Nggawan Bojonegoro yang kala pendataan turut serta. Bahkan perempuan lulusan Arkelogi Udayana tersebut, mengaku beberapa kali datang melakukan penelitian di daerah tersebut.

Pemilihan tempat perahu di lokasi punden, adalah karena lokasi tersebut tidak jauh dari Bengawan dan tanahnya adalah tanah desa. Keberadaan perahu tersebut di area punden dapat menambah nilai sejarah dan budaya masyarakat Ngraho. Adapun kegiatan budaya masyarakat desa ini adalah setiap Jumat Pon pada bulan Suro (Muharam), kaum laki-laki selalu melakukan manganan (semacam sedekah bumi/nyadran) di punden Mbah Pung Prodo.

Bersama Perangkat Desa Ngraho, Kec. Gayam, Kab. Bojonegoro

Novi BMW
PBB9, Kamis, 21/08/2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar