Rabu, 22 Oktober 2014

PRASASTI SEKAR

Di Atas reruntuhan ibukota Majapahit
Seminar Sejarah Bojonegoro pada Rabu, 22 Oktober 2014 di Ruang Anglingdharma Pemkab. Bojonegoro membuat saya terangsang untuk meneruskan tulisan yang tertunda. Namun, tidaklah selengkap yang diharapkan. Selebihnya akan ditulis dalam media yang berbeda dikemudian harinya J.

Marthin Muntadhim,  salah satu pemateri dalam acara Seminar tersebut di atas menyinggung tentang Prasasti Sekar. Namun sayang dalam acara tersebut beliau belum membahas mendalam tentang prasasti tersebut. Inilah salah satu prasasti yang ditemukan di wilayah Kabupaten Bojonegoro.

Prasasti Sekar adalah salah satu jenis tamra prasasti (prasasti lempeng tembaga). Hingga sekarang yang ditemukan baru sebuah lempeng saja, yaitu lempeng ke 3 dari sekumpulan lempengan piagam.
 
Pemateri Seminar Searah Bojonegoro
Prasasti Sekar pertama dilaporkan oleh Brandes pada tahun 1903, ia memperolehnya dari Malang. Namun temuannya berasal dari daerah Sekar, Kabupaten Bojonegoro bagian selatan.  Adapun isi dari Prasasti Sekar tersebut ialah pejabat – pejabat pemerintahan dari masa Kerajaan Majapahit. Adapun susunan yang terdapat dalam prasasti ini adalah sebagai berikut :

1. Rakryan Rangga dijabat oleh Pu Dami
Nama Pu Dami selain dalam prasati ini juga kita dapati dalam sumber primer Kakawin Nagarakrtagama Wirama 72 bait 5. Disebutkan bahwa setelah Mahaptih Gajahmada wafat, maka salah satu pejabat terkemuka yang mendamping Maharaja ialah yuwa mantri[1] Pu Dami. Dengan adanya nama Pu Dami dalam prasasti yang tidak tertera angka tahunnya ini, dapat diketahui masa pembuatannya, yaitu masa kekuasaan Sri Maharaja Hayam Wuruk, pasca wafatnya Mahapatih Gajah Mada tahun 1286 Saka.

2. Rakryan Tumenggung dijabat oleh Pu Nala
Tokoh Pu Nala cukup terkenal, selain dari Prasasti Sekar kita juga dapat menemukan nama tokoh ini dalam beberapa data primer seperti Prasasti Manah i Manuk (Bendosari), Prasasti Batur, Prasasti Tribhuwana, dan Kakawin Nagarakrtagama. Dari semua data tersebut jabatannya adalah sama, yaitu sebagai Tumenggung (panglima perang).

 Pu Nala dalam prasasti Sekar dan Kakawin Nagarakrtagama memiliki gelar kepahlawanan “wiramandalika”. Hal ini disebabkan atas jasa – jasanya dalam peperangan yang membuat jaya Majapahit, dalam wirama 72 bait 2-3 Nagarakrtagama disebut bahwa  ia adalah keturunan orang cerdik, selalu memimpin pasukan disetiap peperangan, menghancurkan pasukan musuh di Dompo (di Provinsi NTB).

3. Sang Arya Dewaraja Pu Sridara

4. Sang Pamgat i Tirwan dijabat oleh Dang Acarya Indradhipa dengan gelar Sang Arya Wangsadiraja
Dalam prasasti Nglawangan disebut pejabat Pamgat Tirwan bernama “Wangsaraja”. Tokoh ini juga terdapat dalam Prasasti Manah i Manuk (Bendosari) disebut sama dengan Prasasti Sekar.

5. Sang Pamgat i Kandamuhi dijabat oleh Dang Acarya Jayanatha dengan gelar Sang Arya Nayadhikara

6. Sang Pamgat i manghuri dijabat oleh Dang Acarya Siweswara dengan gelar Sang Arya Nyayapati

7. Sang Pamgat i Jambi dijabat oleh Dang Acarya Arkanata dengan gelar Sang Arya Sahadipati

8. Sang Pamgat i Pamwatan dijabat oleh Dang Acarya Siwadipa bergelar Sang arya Warnadikara
Dalam prasasti Canggu ia menjabat sebagai Samgat i Jambi

9. Sang Pamgat i Kandangan atuha dijabat oleh Dang Acarya Samantajnana bergelar Sang Arya Samadiraja

10. Dharmadyaksa ring Kasaiwan dijabat oleh Dang Acarya Siwamurti bergelar Sang Arya Rajaparakrama
Tokoh ini disebut pula dalam Manah i Manuk (Bendosari) dan Prasasti Canggu (1280 Saka), namun namanya adalah Dang Acarya Darmaraja.

11. Dharmadyaksa ring Kasogatan dijabat oleh Dang Acarya nadendra bergelar Sang Aryadiraja.
Tokoh ini disebut pula dalam prasasti Canggu (1280 Saka). Tokoh inilah yang diidentifikasi sebagai penulis karya sastra agung Desawarnana, atau yang sering kita sebut sebagai Nagarakrtagama. Ya...tokoh inilah yang terkenal dengan nama samaran “Pu Prapanca” (Prasasti, 2012).

Dari susunan pejabat – pejabat yang ada dalam lempeng ke 3 di atas terlihat kemiripan dan kesamaan susunannya dalam prasasti Manah i Manuk (Bendosari) dan Prasasti Canggu maka prasasti ini merupakan salah satu peninggalan masa kekuasaan Sri Maharaja Hayam Wuruk pasca wafatnya Mahapatih Gajah Mada (1287-1311 Saka).

Daftar Rujukan :

Riana, I. 2009. Kakawin Desa Warnnana uthawi Nagara Krtagama: Masa Keemasan Majapahit. Jakarta: Kompas Media Nusantara

Yamin, H.M. 1962. Tatanegara Majapahit: Sapta Parwa, II. Djakarta: Prapantja

http://prasastishinta.blogspot.com/2012/02/sebuah-tulisan-tentangmu-nadendra.html



Novi BMW
(PBB14, Kamis, 23/10/2014)

[1] Yuwamantri diartikan sebagai mantri / pejabat muda (Riana, 2009)

2 komentar: